Rabu, 24 Juni 2020

Validitas Naskah Akidah karya Imām Asy-Syāfi’iy versi Riwayat Al-‘Usyāriy [Bagian I]

Oleh: Abdullah Ṣalihī Al-Watriy

            Alhamdulillah, semoga selawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Baginda -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, segenap keluarga, para sahabat dan umatnya.

            Imāmunā Asy-Syāfi’iy -raḥimahullāh- salah satu figur besar ulama salaf yang hidup di abad ke-2 H. Selain menjadi rujukan para ulama di akhir abad ke-2 H dalam bidang ilmu fikih dan usul fikih, beliau juga sangat kapabel dalam bidang akidah dan ilmu bahasa Arab. Sebab itu, beliau tergolong rujukan utama akidah salaf, yang mereprentasikan akidah para sahabat yang mereka pelajari dari Sang Baginda -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-.

            Imāmunā Asy-Syāfi’iy kadang mengajarkan atau mengimla keyakinan akidahnya terhadap murid-muridnya. Ajaran beliau ini secara spesifik bisa ditemukan dalam nas-nas ringkas dan dimuat oleh beberapa ulama dalam karya-karya mereka, semisal Ibn Abi Ḥātim dalam Ādāb Asy-Syāfi’iy wa Manāqibuhu, Al-Baihaqiy dalam berbagai buku akidahnya, Al-Lālakā`iy dalam Syarḥ Uṣūl I’tiqād Ahli As-Sunnah, Kitab Ibn Baṭṭah (Al-Ibānah), Al-Ājurriy dalam Asy-Syarī’ah, dan kitab-kitab bersanad lainnya.

            Selain nas-nas ringkas itu, ada beberapa nas panjang tentang akidah yang diimla oleh Imām Asy-Syāfi’iy secara lisan. Nas panjang atau naskah ini diriwayatkan oleh beberapa ulama, di antaranya:

1). Riwayat Imam Abu Ṭālib Al-‘Usyāriy. Sumber asli riwayat ini adalah riwayat Ibn Abi Ḥātim dalam Ādāb Asy-Syāfi’iy wa Manāqibuhu, namun ia tercecer dari cetakan buku tersebut, sebagaimana akan dijelaskan dalam bahasan selanjutnya.

2). Riwayat Imam Abdul-Ganiy Al-Maqdisiy (penulis matan ‘Umdatul-Aḥkām), sebagaimana dinukil oleh Imam Aż-Żahabiy dalam Mukhtaṣar Al-‘Uluw secara ringkas.

3). Riwayat Imam Ahmad bin Ali Al-Hakāriy. Riwayat Al-Hakāriy ini ada dua; salah satunya seperti redaksi riwayat Al-‘Usyāriy yang juga akan dibahas dalam tulisan ini, dan yang kedua adalah seperti redaksi Imam Abdul-Ganiy Al-Maqdisiy.

            Naskah akidah Imām Asy-Syāfi’iy riwayat Al-‘Usyāriy ini bisa ditemukan dalam beberapa buku:

1- Dalam manuskrip secara khusus, sebagaimana dalam buku “Ar-Rasā`il wa Al-Masā`il Al-‘Aqadiyyah Al-Mansūbah li Al-Imām Asy-Syāfi’iy”, bahwa ia memiliki beberapa manuskrip, di antaranya: Manuskrip Maktabah Berlin – Jerman, dan Manuskrip Maktabah Universitas Islam Madinah dan Masjid Nabawi – Arab Saudi.

2- Disebutkan dan diriwayatkan dengan sanad bersambung oleh para ulama dalam beberapa buku mereka, di antaranya:

a- Abu Ṭāhir As-Silafiy dalam Aṡ-Ṡalāṡūn min Al-Masyīkhah Al-Bagdādiyah (13),
b- Abu Zakarya Al-Azdiy dalam Manāzil Al-A`immah (218),
c- Ibn Abī Ya’lā dalam Ṭabaqāt Al-Ḥanābilah (1/283). 

            Kesahihan akidah Imām Asy-Syāfi’iy yang menjadi salah satu rujukan keyakinan para penganut Manhaj Salaf di setiap era tidak diragukan lagi, karena beliau adalah Imam Ahl As-Sunnah wal-Jamaah, namun pembahasan ini hanya membuktikan kesahihan riwayat Al-‘Usyāriy ini yang sebenarnya tidak ada yang “usil” mendaifkannya kecuali oleh beberapa peneliti yang memusuhi para penganut Manhaj Salaf semisal Muhammad Zāhid Al-Kauṡariy dan Hasan As-Saqqāf.

            Sebelum kita membahas validitas riwayat tersebut dari sisi sanad dan kandungan matan atau redaksi (di bagian ke-2), maka di bagian pertama ini kami memunculkan naskah akidah Imām Asy-Syāfi’iy tersebut lengkap dengan terjemahannya. Agar terjemahan akidah ini lebih mudah dipahami, maka kami menambahkan beberapa penjelas yang disebutkan dalam kurung (). Berikut naskah akidah Imām Asy-Syāfi’iy tersebut:

Abu Ṭālib Muhammad bin Ali bin Al-Fatḥ Al-‘Usyāriy Al-Ḥarbiy meriwayatkan: Abul-Ḥasan Ali bin ‘Abdul-‘Azīz bin Mardak Al-Barżā’iy mengabarkan kepada kami dengan cara bacaan (naskah akidah Imām Asy-Syāfi’iy) kepadanya, ia berkata: Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Ḥātim Ar-Rāziy mengabarkan kepada kami, dari Yunus bin ‘Abdil-A’lā, ia berkata: Saya mendengar Muhammad bin Idrīs Asy-Syāfi’iy -raḥimahullāh- saat ditanya tentang sifat-sifat Allah -Ta’ālā- dan keharusan kita dalam mengimaninya, beliau menyampaikan:

لِلَّهِ تَعَالَى أَسْمَاءٌ وَصَفَاتٌ جَاءَ بِهَا كِتَابُهُ وَأَخْبَرَ بِهَا نَبِيُّهُ أُمَّتَهُ لَا يَسَعُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ رَدُّهَا ; لِأَنَّ الْقُرْآنَ نَزَلَ بِهَا وَصَحَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلُ بِهَا فِيمَا رَوَى عَنْهُ الْعُدُولُ فَإِنْ خَالَفَ ذَلِكَ بَعْدَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ أَمَّا قَبْلَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ فَمَعْذُورٌ بِالْجَهْلِ لِأَنَّ عِلْمَ ذَلِكَ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ وَلَا بِالرَّوِيَّةِ وَالْفِكْرِ

Allah -Tabāraka wa Ta’ālā- memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan oleh Kitab-Nya dan disampaikan oleh Nabi kita -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun menyelisihinya dari kalangan hamba Allah yang telah ditegakkan hujah atasnya bahwa Al-Quran telah turun dengannya (yakni dengan penetapan nama dan sifat Allah) dan secara sahih diriwayatkan melalui sabda Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- oleh perawi yang ‘adl (tisqah). Bila ia menyelisihi hal itu setelah hujah telah ditegakkan atasnya maka Dia telah kafir kepada Allah. Adapun sebelum penegakkan hujah atasnya lewat pemberitahuan dalil, maka ia adalah orang yang diberi uzur karena kejahilannya; karena mengilmui hal tersebut (nama dan sifat Allah) tidak bisa diketahui lewat akal, nalar, ataupun pikiran.

وَنَحْوُ ذَلِكَ إِخْبَارُ اللَّهِ إِيَّانَا أَنَّهُ سَمِيعٌ

Di antara nas-nas (penetapan sifat Allah) tersebut adalah kabar-kabar dari Allah yang disampaikan kepada kita semua; -Bahwa Dia (Allah) Maha Mendengar.

وَأَنَّ لَهُ يَدَيْنِ، بِقَوْلِهِ: {بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ} [المائدة: 64]

Bahwa Dia memiliki dua tangan, berdasarkan firman-Nya: “Bahkan kedua tangan-Nya terbentang lebar” (QS. Al-Mā`idah: 64).

وَأَنَّ لَهُ يَمِينًا، بِقَوْلِهِ: {وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ} [الزمر: 67]

 Bahwa Dia (Allah) memiliki tangan kanan, berdasarkan firman-Nya: “Dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya”. (Az-Zumar: 67) ]

وَأَنَّ لَهُ وَجْهًا، بِقَوْلِهِ: {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ} [القصص: 88], وَقَوْلُهُ: {وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ} [الرحمن: 27]

Bahwa Dia (Allah) memiliki wajah, berdasarkan firman-Nya: “Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah Allah” (QS. Al-Qashash: 88). Juga berdasarkan firman-Nya: “Tetapi wajah Rabb-mu yang memiliki kemuliaan dan keagungan tetaplah kekal.” (QS. Ar-Rahman: 27)

وَأَنَّ لَهُ قَدَمًا، بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «حَتَّى يَضَعَ الرَّبُّ فِيهَا قَدَمَهُ» يَعْنِي فِي جَهَنَّمَ

Bahwa Dia (Allah) memiliki kaki, berdasarkan sabda Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-: ” … sampai Rabb meletakkan kakinya ke dalamnya (Jahanam). (HR. Bukhari: 4848 dan Muslim: 2848)

وَأَنَّهُ يَضْحَكُ مِنْ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ، بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: «أَنَّهُ يَلْقَى اللَّهَ وَهُوَ يَضْحَكُ إِلَيْهِ »

Bahwa Dia (Allah) tertawa terhadap hamba-Nya yang mukmin, berdasarkan sabda Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- terhadap orang yang terbunuh di jalan Allah: “Sungguh ia berjumpa Allah sedangkan Allah tertawa kepadanya…” (HR. Sa’id bin Mansur dengan sanad hasan)

وَأَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، يُخْبِرُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ

Bahwa Dia (Allah) turun setiap malam ke langit dunya (terendah) berdasarkan hadis Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- yang menyebutkan tentang itu (Lihat. HR Bukhari: 1154 dan Muslim: 758).

وَأَنَّهُ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ ذَكَرَ الدَّجَّالَ، فَقَالَ: «إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ» .

Bahwa Dia (Allah) tidaklah bermata satu, berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- tatkala menyebutkan Dajal, beliau bersabda, “Sungguh ia (Dajal) bermata satu, dan sungguh Rabb kalian tidaklah bermata satu” (HR. Bukhari: 4402 dan Muslim: 2933).

وَأَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَبْصَارِهِمْ كَمَا يَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

Bahwa kaum mukminin akan memandang Rabb mereka pada hari Kiamat dengan penglihatan mereka sendiri sebagaimana mereka memandang bulan di malam purnama (Lihat. HR. Bukhari: 554 dan Muslim: 633 –pen).

وَأَنَّ لَهُ إِصْبَعًا، بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ قَلْبٍ إِلا وَهُوَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ» .

Bahwa Dia (Allah) memiliki jemari, berdasarkan sabda Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-: “Tidaklah ada satu hati pun melainkan berada di antara dua jari dari jemari Ar-Rahman –’Azza wa Jalla-” (HR. Muslim: 2654).

فَإِنَّ هَذِهِ الْمَعَانِيَ الَّتِي وَصَفَ اللَّهُ بِهَا نَفْسَهُ، وَوَصَفَ بِهَا رَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لا يُدْرِكُ حَقِيقَةَ ذَلِكَ بِالْفِكْرِ، وَالرَّوِيَّةِ، وَلَا يَكْفُرُ بِالْجَهْلِ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا بَعْدَ انْتِهَاءِ الْخَبَرِ إِلَيْهِ بِهَا. فَإِنْ كَانَ الْوَارِدُ لِذَلِكَ خَبَرًا يَقُومُ فِي الْفَهْمِ مَقَامَ الْمُشَاهَدَةِ فِي السَّمَاعِ، وَجَبَتِ الدَّيْنُونَةُ عَلَى سَامِعِهِ بِحَقِيقَتِهِ، وَالشَّهَادَةِ عَلَيْهِ، كَمَا عَايَنَ وَسَمِعَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَكِنْ يُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ، وَيَنْفِي عَنْهَا التَّشْبِيهَ، كَمَا نَفَى ذَلِكَ عَنْ نَفْسِهِ تَعَالى ذِكْرُهُ, فَقَالَ: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى: 11]   

Makna-makna ini yang Allah sifatkan untuk diri-Nya dan yang Rasul-Nya -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- sifatkan untuk-Nya; tidak bisa diketahui hakikat (kaifiat)nya dengan berpikir dan bernalar. Seseorang tidak kafir dengan sebab tidak mengetahuinya, kecuali bila sampai kabar (nas) tersebut kepadanya (maka ia kafir kalau mengingkarinya). Jika yang datang itu adalah kabar (nas) yang bisa dipahami (secara jelas) sebagaimana terangnya kesaksian dalam membuktikan hal yang didengar, maka wajib atas pendengarnya mengambil dan mengakui hakikatnya dan bersaksi atas (kebenaran)nya, sebagaimana dia menyaksikan dan mendengarnya langsung dari Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-. Akan tetapi, ia harus mengisbat (menetapkan) sifat-sifat ini, dan menafikan tasybīh (penyerupaan-Nya dengan makhluk), sebagaimana Dia (Allah) -Ta’ālā Żikruhu- telah menafikan itu dari diri-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Asy-Syūrā: 11).

Bersambung.

Langganan Posting Via Email

Masukkan Alamat Email Anda :

Artikel Terkait



Comments :

0 komentar to “Validitas Naskah Akidah karya Imām Asy-Syāfi’iy versi Riwayat Al-‘Usyāriy [Bagian I]”


Posting Komentar

" Afwan, Kami hanya menampilkan komentar yang ilmiah dan kritikan yang membangun "

Next previous home