Rabu, 24 Juni 2020

Bid’ahkah Pembagian Tauhid Menjadi Tiga?

Merupakan suatu hal yang biasa di kalangan para ulama Islam membagi-bagi suatu cabang ilmu menjadi beberapa bagian,
dengan tujuan memudahkan orang untuk memahami ilmu tersebut sehingga mudah diterapkan dan diamalkan, misalnya ketika ulama membagi hukum taklifi menjadi 5, yaitu (wajib, mustahab, mubah, makruh, dan haram) dan contoh-contoh lainnya termasuk diantaranya adalah pembagian Tauhid menjadi 3, atau menjadi 2, bahkan ada ulama yang membaginya menjadi 4.


Dan hasil pambagian seperti itu bukanlah sesuatu yang dibuat buat oleh para ulama tanpa landasan yang kuat, mereka mencapai hasil pada pembagian seperti itu setelah melalui penelitian terhadap dalil-dalil yang ada di dalam al-Quran ataupun Hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sehingga yang menjadi permasalahan sebenarnya adalah bukan pada pembagian ilmu tersebut, namun apakah landasan dari pembagian ilmu itu kuat ataukah tidak ?

Jika kita mengamati dengan baik isi al Quran dan al Hadits maka kita akan dapati bahwa maksud dari setiap bagian Tauhid tersebut adalah sesuatu yang telah dikabarkan dan diperintahkan.

Diantara bentuk kekeliruan sebagian muslim adalah mengatakan bahwa pembagian tauhid ini merupakan sesuatu yang baru ada di abad ke 8 Hijriah, dan yang menggagasnya pertama kali adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Tentu saja ini adalah sesuatu yang keliru, karena jauh sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sudah banyak ulama yang menyebutkan pembagian ini baik secara langsung ataupun dengan mengisyaratkannya.

Sebelum kami meyebutkan beberapa contoh perkataan ulama yang hidup sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkaitan dengan pembagian tauhid ini,  maka kita harus memahami dengan baik terlebih dahulu makna dari setiap bagian Tauhid ini. Sebagai contoh adalah apa yang disebutkan oleh kebanyakan para ulama yaitu Tauhid terbagi menjadi 3 bagian ( Tauhid ar Rububiyah, Tauhid al Uluhiyah, dan Tauhid al Asmaa wa as Shifat )

Tauhid ar-Rububiyah, maksudnya adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatan Allah berupa menciptakan, mengatur, memelihara alam semesta ini dan seterusnya.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak AllahRabbul ‘ālamīn yang maha mulia” [QS. Al- A’raf: 54]

Tauhid al-Uluhiyah/al-‘Ibadah, maksudnya adalah mengesakan Allah subhaanahu wa ta’ala dalam perbuatan hamba yaitu dalam ibadah kepadaNya, bahwa ibadah ini tidak boleh diberikan kecuali hanya kepada Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak (diibadahi) dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah bathil”
[QS. Luqman: 30]

Tauhid al-Asmā wa as-Shifāt, Maksudnya adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifatNya,tanpa ta’thil (menolak dan mengingkari makna), tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa tamtsil (menyerupakan), dan tanpa takyif (mempersoalkan kaifiyahnya), tauhid ini mencakup 2 hal yaitu menetapkan dan menafikan, menetapkan bagi Allah nama dan sifat yang mulia sesuai dengan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau apa yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menafikan kesamaan dengan makhluk-Nya,

Allah subhānahu wa ta’ala berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
  [QS. Asy-Syuura: 11]

Setelah kita memahami makna dari setiap pembagian tauhid ini maka kami yakin orang awampun dalam Islam ini ketika ditanya tentang ketiga bagian itu apakah benar atau tidak ? maka mereka akan mengatakan benar, karena memang Allah harus diesakan dalam ketiga hal tersebut, maka sangat aneh jika ada sebagian muslim menolaknya dengan alasan ini adalah buatan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di abad ke 8 Hijriah. Ketahuilah bahwa jauh sebelum beliau sudah banyak ulama yang mengatakan dan mengisyaratkan bagian-bagian tauhid ini, berikut kami nukilkan beberapa contoh perkataan ulama sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam hal pembagian tauhid ini.
  1. Al-Imam Abu Hanifah rahimahullaāhuta’ala (wafat tahun 150 H) berkata :
والله يدعى من أعلى لا من أسفل، لأن الأسفل ليس من وصف الربوبية و الألوهية في شيئ
“Allah ta’ala diseru sedang Dia berada di atas, bukan di bawah. Karena posisi bawah bukanlah bagian dari sifat rububiyah dan uluhiyyah sedikit pun.” (Al-Fiqh Al-Absath, hal. 51)
Perkataan beliau, “Allah Ta’ala diseru sedang Dia berada di atas, bukan di bawah” terdapat penetapan sifat al-‘uluw bagi Allah, sehingga termasuk dalam tauhid asmā washifat. Setelah itu, beliau pun tegas menyebutkan tentang rububiyyah dan uluhiyyah AllahTa’ala.
  • Imam Abu ‘Abdillah ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah al-‘Ukbari rahimahullahuta’ala (Ibnu Baththah) (wafat tahun 387 H) berkata :
وَذَلِكَ أَنَّ أَصْلَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ الَّذِي يَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ اعْتِقَادُهُ فِي إِثْبَاتِ الْإِيمَانِ بِهِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ:
 أَحَدُهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ الْعَبْدُ ربآنِيَّتَهُ لِيَكُونَ بِذَلِكَ مُبَايِنًا لِمَذْهَبِ أَهْلِ التَّعْطِيلِ الَّذِينَ لَا يُثْبِتُونَ صَانِعًا.
 الثَّانِي: أَنْ يَعْتَقِدَ وَحْدَانِيَّتَهُ، لِيَكُونَ مُبَايِنًا بِذَلِكَ مَذَاهِبَ أَهْلِ الشِّرْكِ الَّذِينَ أَقَرُّوا بِالصَّانِعِ وَأَشْرَكُوا مَعَهُ فِي الْعِبَادَةِ غَيْرَهُ.
وَالثَّالِثُ: أَنْ يَعْتَقِدَهُ مَوْصُوفًا بِالصِّفَاتِ الَّتِي لَا يَجُوزُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَوْصُوفًا بِهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْقُدْرَةِ وَالْحِكْمَةِ وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ

“Yang demikian itu karena pokok iman kepada Allah yang wajib diyakini oleh seorang hamba dalam menetapkan keimanan kepadaNya itu ada tiga macam:

Pertama : seorang hamba meyakini rububiyah Allahsehingga dengan keyakinan itu dia berbeda dengan ahlu ta’thil (yaitu, orang-orang atheis) yang tidak menetapkan adanya Sang Pencipta.

Kedua, meyakini keesaan Allah sehingga dengan keyakinan itu dia berbeda dengan keyakinan orang-orang musyrik yang meyakini adanya pencipta (yaitu Allah), namun menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam beribadah.

Ketiga, meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang harus dimiliki oleh Allah, yaitu sifat al-‘ilmu, al-qudrah, al-hikmah, dan semua sifat-sifat yang Allah sebutkan sebagai sifat-Nya dalam kitab-Nya … ” (Al-Ibaanah Al-Kubraa, 6: 149)

Perkataan Ibnu Baththah ini sangat jelas menunjukkan pembagian tauhid menjadi tiga, pertama beliau sebutkan tauhid ar Rububiyah, kemudian tauhid ibadah (tauhid al-uluhiyyah), dan terahir beliau sebutkan tentang tauhid asmā’ washifāt.
Kemudian Ibnu Baththah rahimahullahuTa’alaberkata :

وَلِأَنَّا نَجِدُ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ خَاطَبَ عِبَادَهُ بِدُعَائِهِمْ إِلَى اعْتِقَادِ كُلِّ وَاحِدَةٍ فِي هَذِهِ الثَّلَاثِ وَالْإِيمَانِ بِهَا

“Karena sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah ta’ala berbicara kepada hamba-hambaNya dengan menyeru mereka untuk meyakini setiap dari tiga jenis tauhid ini serta beriman dengannya.” (Al-Ibaanah Al-Kubraa, 6: 149)

Kalimat ini sangat jelas menunjukkan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga yang beliau sebutkan itu bersumber atau disimpulkan dari Al-Qur’an.
  • Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullahuTa’ala (wafat tahun 321 H) juga telah mengisyaratkan pembagian tauhid ini dalam muqaddimah kitab beliau Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah,
نَقُولُ فِي تَوْحِيدِ اللَّهِ مُعْتَقِدِينَ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ إن الله واحد لا شريك له ؛ ولا شي مثله ؛ ولا شيء يعجزه ؛ ولا إله غيره

“Kami berkata dalam mentauhidkan Allah, meyakini dengan hidayah taufik dari Allah, sesungguhnya Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada satu pun yang serupa dengan-Nya, tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan-Nya, dan tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia (Allah)”

Perkataan beliau, “Sesungguhnya Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya” ini mencakup ketiga Tauhid sekaligus.

Perkataan beliau, “tidak ada satu pun yang serupa dengan-Nya” ini adalah tentang tauhid al-Asma’ waas-Shifat.

Perkataan beliau, “tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan-Nya” ini adalah tentang tauhid ar-rububiyah.

Perkataan beliau, “tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain diri-Nya” ini adalah tentang tauhid al-uluhiyyah.

Bahkan beliau sebutkan bahwa aqidah yang beliau yakini dan tuliskan dalam kitabnya ini adalah aqidahyang bersumber dari para ulama terdahulu, beliau katakan :

هذا ذكر بيان عقيدة أهل السنة والجماعة على مذهب فقهاء الملة أبي حنيفة النعمان بن ثابت الكوفي وأبي يوسف يعقوب بن إبراهيم الأنصاري وأبي عبد الله محمد بن الحسن الشيباني رضوان الله عليهم أجمعين وما يَعْتَقِدُونَ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ وَيَدِينُونَ بِهِ رَبَّ العالمين

“Ini adalah penjelasan ‘aqidahahlussunnahwaljama’ah, di atas madzhab para Fuqoha,  yaitu Abu Hanifah Nu’man bin Tsaabit Al-Kuufi, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani, semoga Allah meridhai mereka semuanya, dan prinsip-prinsip agama yang mereka yakini, yang dengan itu mereka beragama (beribadah) kepada Allah.“
  • Imam Ibnu Hibban Al-Busti rahimahullahuTa’ala (wafat tahun 354 H) juga mengisyaratkan tiga macam tauhid ini di muqaddimah kitab beliau, Raudhatul ‘Uqalaa’,
الحمد لله المتفرد بوحدانية الألوهية المتعزز بعظمة الربوبية القائم على نفوس العالم بآجالها والعالم بتقلبها وأحوالها المان عليهم بتواتر آلائه المتفضل عليهم بسوابغ نعمائه الذي أنشأ الخلق حين أراد بلا معين ولا مشير وخلق البشر كما أراد بلا شبيه ولا نظير 
فمضت فيهم بقدرته مشيئته ونفذت فيهم بعزته إرادته

“Segala puji bagi Allah Ta’ala; Yang Esa dalam uluhiyyah; Yang Perkasa dengan keagungan rububiyah, yang menetapkan batas waktu bagi alam semesta, yang mengetahui berbagai perubahan dan kondisinya, yang mengaruniakan mereka dengan anugerah-Nya yang terus-menerus,yang memberi keutamaan kepada mereka dengan berbagai nikmat-Nya, Dzat yang menciptakan makhluk ketika Dia berkehendak tanpa satu pun penolong dan pembantu, yang menciptakan manusia sesuai dengan yang dikehendaki tanpa ada sekutu dan tandingan, seluruh kehendak-Nya berlaku pada mereka dengan kekuasaan-Nya dan seluruh keinginan-Nya terlaksana pada diri mereka dengan kemuliaan-Nya.” (Raudhatul ‘Uqalaa’ waNuzhatulFudhalaa’:1: 14)
  • Demikian pula Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusi rahimahullahuTa’ala (wafat tahun 520 H) berkata dalam muqaddimah kitab beliau, Siraajul Muluuk,
وأشهد له بالربوبية والوحدانية. وبما شهد به لنفسه من الأسماء الحسنى. والصفات العلى. والنعت الأوفى. ألا له الخلق والأمر. تبارك الله رب العالمين

“Aku bersaksi kepada Allah Ta’ala dalam rububiyah dan keesaan (dalam uluhiyyah). Dan aku bersaksi dengan yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya sendiri berupa nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang tinggi dan mulia. Milik Allah penciptaan dan pengaturan. Maha Suci Allah, Rabb semesta Alam.” (SiraajulMuluuk, 1: 3)

Dan masih banyak lagi perkataan para ulama yang hidup jauh sebelum syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumullahujami’an, namun beberapa yang kami sebutkan insya Allah sudah cukup untuk meyakinkan kita bahwa pembagian tauhid ini bukan sesuatu yang tercela di kalangan para ulama kita dan bahkan itu adalah hasil pengamatan mereka dari apa yang Allah sebutkan di dalam al-Quran al-Karīm

Wallahu Ta’ala A’lā wa A’lam 

(Tim Kajian Ilmiyah Alinshof)

Langganan Posting Via Email

Masukkan Alamat Email Anda :

Artikel Terkait



Comments :

0 komentar to “Bid’ahkah Pembagian Tauhid Menjadi Tiga?”


Posting Komentar

" Afwan, Kami hanya menampilkan komentar yang ilmiah dan kritikan yang membangun "

Next previous home